Minggu, 04 September 2016

PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI GURU KELAS 2 DAN 5 MADRASAH IBTIDAIYAH SE-KECAMATAN CITEUREUP KABUPATEN BOGOR



Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Citeureup menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru Kelas 2 dan 5 Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Citeureup pada tanggal 2 sd. 4 September 2016 di Hotel Bale Arimbi Jl Raya Puncak Cibogo II Kabupaten Bogor dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi guru madrasah khususnya Guru MI di Kecamatan Citeureup dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 sehingga terjadi perubahan pola fikir (mindset) guru dalam mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi hasil pembelajaran sesuai dengan pendekatan dan evaluasi pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan baik dan benar. Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor.
Dalam sambutannya, Ketua Pokjawas Madrasah Drs.Edi Mulyadi, M.Pd.I menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pelatihan tersebut terlebih pada tahun pelajaran 2016/2017 ini Kurikulum 2013 diberlakukan pada empat tingkatan kelas, yakni kelas 1, 2, 4, dan 5 terkecuali untuk mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab yang sudah berlaku untuk semua tingkatan kelas. Disisi lain beliau menyampaikan, tidak tersedianya anggaran pada Kementerian Agama untuk kegiatan pelatihan kurikulum 2013 bagi guru-guru madrasah secara merata, sehingga kegiatan pelatihan semacam ini memang sangat dibutuhkan oleh guru-guru agar mampu mengimplementasikan kurikulum 2013 pada proses pembelajaran yang seharusnya sudah dapat berjalan di awal tahun pelajaran sekarang ini.
Kepada peserta pelatihan, Ketua Pokjawas menandaskan bahwa  dalam kurikulum 2013, guru berperan sebagai fasilitator, sebagai desain pembelajaran, dimana pusat pembelajaran ada pada peserta didik, maka guru harus mendorong peserta didik menjadi lebih kreatif dan mandiri serta peserta didik diarahkan untuk mampu belajar mandiri. Lebih lanjut ditegaskan, “bahwa guru harus menyiapkan bukan saja materi tapi mengetahui kesiapan peserta didik, kemudian harus menggali potensi peserta didik” paparnya serius.
Pada sesi penyampaian materi, ketua Pokjawas yang juga sebagai nara sumber tersebut menyampaikan beberapa regulasi tentang kurikulum 2013 termasuk penggunaan permendikbud terbaru yakni nomor 20, 21, 22, 23, dan 24 tahun 2016 yang berhubungan dengan SKL, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, dan KI-KD Kurikulum 2013. Ditambahkan pula bahwa dalam pelaksanaan kurikulum 2013 yang diberlakukan secara bertahap dan terbatas, setidaknya ada 3 (tiga) hal yang harus diperhatikan guru antara lain Pertama, perubahan mind set (pola pikir). Pengembangan kurikulum dengan pendekatan saintifik memungkinkan siswa untuk terlibat aktif  dalam pembelajaran melalui mengamati, menanya, menalar pada proses inquiry, eksplorasi, dan elaborasi. “Perubahan pola pikir guru dibutuhkan untuk bisa berperan lebih menjadi fasilitator dan motivator dari pada inisiator dan eksekutor, dalam merubah dari teacher centered ke student centered”. Selanjutnya, untuk mewujudkan perubahan mindset guru diperlukan adanya good will dari para guru untuk merubah mind set-nya bahwa tugas mengajar adalah sebagai komitmen profesi dalam membelajarkan dan mencerdaskan anak bangsa” tuturnya dengan jelas.
Kedua, diperlukan tindakan konstruktif dan inovatif guru, dimana rencana pengembangan kurikulum 2013 yang akan diikuti dengan fasilitasi buku siswa, buku guru, maupun silabus serta RPP-nya tentunya tidak malah membuat guru merasa “santai”  dalam mengajar, tetapi hal ini dimaksudkan supaya  guru tidak lagi terlalu disibukkan dengan hal-hal yang bersifat sosiatif, tetapi lebih pada kegiatan inovatif akademis pembelajaran di kelas. “Keahliaan, kejelian dan kecerdasan guru dalam meramu “ kompetensi inti, dan kompetensi dasar; aspek sikap, pengetahuan, dan aspek keterampilan; akan menghasilkan siswa yang kompeten” paparnya lebih lanjut.
Selanjutnya, yang ketiga adalah harus ada Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) baik melalui  level madrasah maupun kelompok/wadah se-profesi (KKG/MGMP), mutlak perlu dilaksanakan dan ditingkatkan untuk saling asah, asih, dan asuh ocial kolega guna menghasilkan siswa-siswa yang cerdas dan unggul.   
Sementara itu, Ketua KKMI Kecamatan Citeureup E.Sirojuddin, S.Ag yang juga sebagai ketua pelaksana kegiatan, selain memaparkan latar belakang, dasar dan tujuan diselenggarakannya Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru Kelas 2 dan 5 Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Citeureup, juga berpesan agar guru memiliki sikap teladan, dimana tugas mendidik guru perlu dikedepankan dalam aspek penguatan sikap dan budi pekerti siswa. Pendidikan karakter tidak hanya terhenti pada pengetahuan saja akan tetapi perlu suatu pengintegrasian pada pembiasaan pembelajaran, suri tauladan, apresiasi dan implementasi norma akademis yang nantinya tercermin pada norma sosial yang semakin utuh dalam praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Terkait dengan hal tersebut,  tugas guru utamanya untuk mengintegrasikan nilai sikap dan pendidikan karakter dalam praktik pembelajaran yang diampunya, yang selanjutnya akan menjadi school culture untuk bisa merambah identitas diri pribadi siswa yang berkarakter. Inilah yang dibutuhkan dalam kehidupan kelak menyongsong ketatnya persaingan global untuk tetap berpegang pada jati diri bangsa”, pungkasnya. 
Nara sumber Pelatian yang sengaja dihadirkan dari ketua Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyah (KKGMI) Kabupaten Bogor yang juga bertugas sebagai Kepala MIN Parung, Abdul Aziz, M.Pd.I materi yang disampaikannya lebih ke materi bersifat praktek, diantaranya tentang pembuatan jadwal pelajaran, merancang rencana pembelajran, strategi pelaksanaan proses pembelajaran yang juga dipraktekkan dalam bentuk peer teaching.
Sementara itu, nara sumber lain dari Pengurus KKMI Kabupaten Bogor Yusuf Alamsyah, M.Pd salah satunya menyampaikan tentang elemen elemen perubahan dalam kurikulum 2013 dimana perubahan yang sangat mendasar pada kurikulum 2013 adalah standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian.

Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama, yakni  Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian.” paparnya.
Pelaksanaan Pelatihan itu sendiri diikuti oleh para peserta yang terdiri dari seluruh guru kelas 2 dan 5 se-Kecamatan Citeureup dengan serius dan antusias, hal itu tergambar dari hidupnya dialog peserta dengan narasumber dan peserta pun mempraktekkan langsung inti dari kurikulum 2013.

Berita Terkait :
KKMI Citeureup Adakan Pelatihan Kurtilas
 .

Jumat, 19 Agustus 2016

APRESIASI KKMI CITEUREUP TERHADAP KEGIATAN WORKSHOP DOKUMEN KTSP OLEH POKJAWAS MADRASAH KABUPATEN BOGOR

Baru-baru ini, Kelompok Kerja Pengawas Madrasah pada Kementerian Agama Kabuapten Bogor menyelenggarakan kegiatan Workshop KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) bagi para kepala dan operator madrasah se-kabupaten Bogor. Kegiatan tersebut dalam rangka mengimplementasikan Surat Keputusan Dirjend Pendis No.5114 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Kurikulum 2013 dan Surat Edaran Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat tentang pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Madrasah di Jawa Barat tahun pelajaran 2016/2017. Selain itu, kegiatan workshop KTSP tersebut juga diselenggarakan oleh Pokjawas Madrasah sebagai upaya pembenahan administrasi madrasah khususnya bidang kurikulum yang pada kenyataannya masih banyak madrasah tidak memiliki dokumen kurikulum yang lengkap yang seharusnya dimiliki oleh setiap madrasah. Kegiatan yang melibatkan seluruh tingkatan madrasah di kabupaten Bogor tersebut mulai dari MI, MTs, dan MA dilaksanakan secara bertahap mulai tanggal 26 Juli sampai dengan 13 Agustus tahun 2016 mendapatkan respon yang positif dari para peserta yang dibuktikan dengan kehadiran mendekati angka 100% dan keseriusan serta antusias yang tinggi para peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan Workshop KTSP yang kami ikuti, secara resmi dibuka oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah pada Kementerian Agama Kabupaten Bogor Drs.H.Matnur, MM, M.Si yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi bagi para panitia dalam hal ini Pokjawas Madrasah dan juga para kepala dan operator madrasah yang hadir sebagai peserta. Pada penyampaian materi tentang kebijakan-kebijakan Kementerian Agama, beliau pun mengatakan bahwa, ”harus ada tindak lanjut dari kegiatan workshop ini yaitu setiap madrasah setelah selesai mengikuti kegiatan pada akhirnya harus memiliki dan melaksanakan KTSP di madrasahnya masing-masing. Hal ini harus menjadi agenda tersendiri para pengawas pembina di wilayah masing-masing untuk terus memantau dan mengawasi serta membimbing dan mengarahkan sehingga kegiatan workshop ini benar-benar terasa manfaatnya bagi satuan pendidikan.” 

Sementara itu, Drs. Edi Mulyadi, M.Pd.I sebagai ketua panitia pada kegiatan Workshop KTSP dalam acara pembukaan menyampaikan bahwa, “pentingnya setiap madrasah memiliki dokumen KTSP sebagai acuan seluruh proses kegiatan yang dilaksanakan di setiap madrasah. Sekarang ini, KTSP jangan diartikan dengan istilah awal diberlakukannya kurikulum 2006 akan tetapi KTSP adalah Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan yang harus dibuat dan dimiliki serta dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dimana di dalamnya memuat kurikulum yang berlaku yakni bagi tingkat Madrasah Ibtidaiyah untuk kelas 1, 2, 4, dan 5 adalah Kurikulum 2013, dan untuk kelas 3 dan 6 masih menggunakan kurikulum 2006. Demikian halnya juga dengan tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah sesuai dengan kelas dan ketentuan yang diberlakukan”. Jadi, KTSP bukan diartikan sebagai kurikulum 2006 akan tetapi sebagai kurikulum yang dibuat dan digunakan oleh satuan pendidikan pada tahun pelajaran berjalan.

Disela-sela acara tersebut, HR.Himayatul Islam, M.Pd yang juga adalah panitia kegiatan workshop KTSP menyampaikan bahwa para peserta tidak hanya diberikan pemaparan tentang dokumen KTSP tetapi semua peserta dibekali juga dengan sebuah CD materi-materi pendukung yang di dalamnya memuat regulasi kurikulum, acuan menyusun dokumen kurikulum, Kriteria Ketuntasan Minimal, Kurtilas PAI dan Bahasa Arab untuk kelas 2 dan 5, serta Kurtilas mata pelajaran umum untuk semua tingkatan kelas. Dengan kegiatan workshop ini ditegaskan pula bahwa, “agar setiap satuan pendidikan benar-benar memiliki dokumen KTSP yang lengkap berupa buku 1, 2, dan 3 sehingga tidak diharapkan lagi ada madrasah yang menyiapkan dan membuat dokumen KTSP hanya ketika akan mengikuti kegiatan akreditasi”. Paparnya lebih lanjut.  
Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Citeureup, dalam hal ini memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan Workshop KTSP yang selenggarakan oleh Pokjawas Madrasah Kabupaten Bogor. Tentu saja bukan tidak berdasar, karena kami pun menyadari nilai penting kegiatan tersebut bagi madrasah-madrasah khususnya tingkat MI di kecamatan Citeureup. Sebelumnya, KKMI Citeureup sendiri telah melaksanakan kegiatan serupa bagi para kepala dan operator madrasah selama tiga hari lamanya dengan dukungan penuh Pengawas Madrasah sebagai pengawas pembina di wilayah kecamatan Citeureup (berita terkait klik disini). Semoga kegiatan workshop KTSP yang diselenggarakan Pokjawas Madrasah Kabupaten Bogor, benar-benar dapat diimplementasikan di tingkat satuan pendidikan dengan dibuat dan dimiliki serta dilaksanakannya KTSP tersebut di setiap madrasah yang tentunya dengan dukungan pengawasan dan pembinaan oleh para pengawas madrasah di wilayah.

Kamis, 18 Agustus 2016

INSPIRASI BAGI MADRASAH DALAM MEMAKNAI PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA



Setiap tanggal 17 Agustus, kita selalu memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang kita cintai. Dalam hati kita sebagai warga Negara yang merupakan generasi penerus bangsa memaknainya bahwa kemerdekaan adalah hasil jerih payah, perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia oleh para pahlawan dan proklamator bangsa ini.

Apa sebetulnya makna dan tujuan kita mengadakan peringatan hari kemerdekaan itu?
Setidaknya ada tiga makna dan tujuan kita memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus tersebut. Pertama, untuk mendoakan para pahlawan kita. Kedua, adalah untuk mengenang pengorbanan jasa-jasa para pahlawan. Dan ketiga, ini sebenarnya yang lebih penting yakni bagaimana kita dapat menimba teladan hidup dari mereka para pahlawan pejuang bangsa. Para pahlawan tersebut keteladannya dapat dijadikan penyemangat bagi kita dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan tantangan dan rintangan ini, sebagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan yang dengan gigih dan penuh semangat, tanpa pamrih serta tidak mengenal rasa putus asa dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara kita.

Dari sudut pandang keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan saat ini yang begitu banyak tantangan dan rintangannya dalam mengupayakan kemajuan dan peningkatan mutu pendidikan di madrasah, tentunya perjuangan para pahlawan bangsa tersebut seharusnya mampu menjadi motivasi bagi para pengelola, pelaksana dan pemerhati madrasah dengan meneladaninya demi kemajuan madrasah sebagai lembaga pendidikan. Tak dapatlah kita pungkiri, masih banyak madrasah yang keberadaanya masih jauh dari apa yang diharapkan sebagai lembaga pendidikan yang memadai bagi anak bangsa ini. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki, mulai dari Sumber Daya Manusia, sarana prasarana yang dimiliki, administrasi dan manajemen yang masih lemah tentunya memerlukan perjuangan yang keras tanpa pamrih dan tidak mengenal putus asa sebagaimana dicontohkan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa ini agar keberadaan madrasah benar-benar sebagai lembaga pendidikan yang memadai dan menjadi pilihan anak bangsa ini dalam proses pendidikannya.

Lalu, inspirasi apakah yang diwariskannya?
Inspirasi dan nilai-nilai yang dapat kita ambil dari peristiwa menjelang detik-detik kemerdekaan Republik Indonesia.
Pertama, adalah Cita-cita yang jelas. Cita-cita para pahlawan yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia. Pembebasan ibu pertiwi dari penjajahan bangsa asing. Ini adalah cita-cita yang besar. Bung Karno sebagai proklamator mengatakan supaya kita menggantungkan cita-cita kita setinggi langit.
Demikian halnya dengan keberadaan madrasah. Madrasah pun harus memiliki cita-cita yang jelas yang dituangkan dalam visi, misi, dan tujuan madrasah.

Kedua, adalah semangat pantang menyerah. Kemerdekaan Republik Indonesia adalah hasil sebuah cita-cita yang besar yang diikuti dengan semangat pantang menyerah para pahlawan pejuang bangsa. Demikian pula halnya apabila kita dalam mengelola madrasah memiliki semangat pantang menyerah, tantangan atau godaan apapun tidak akan mampu menggoyahkan kita. Kita tidak akan menyerah begitu saja dengan mudah. Bila kita terus berjalan menuju ke arah cita-cita madrasah yang tertuang dalam visi, misi dan tujuan madrasah dengan semangat pantang menyerah, maka pada suatu saat pun pada akhirnya akan sampai di tempat tujuan.

Ketiga, adalah Keberanian. Bung Karno, Jenderal Soerdirman, dan para pejuang yang lainnya pastilah bukan orang-orang pengecut. Beberapa kali dibuang oleh kolonial Belanda, tetapi beliau dan kawan-kawanya tidak pernah putus asa, dan tidak mau menempuh jalan yang aman sebagai seorang penakut. Mereka dengan sadar memilih jalan sulit dan berbahaya. Mereka memilih menempuh jalan yang jarang dilalui karena keberaniannya. Hal itulah menjadi salah satu factor keberhasilan perjuangan mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.
Hal tersebut perlu kita teladani dalam mengelola madrasah. Cita-cita dan keinginan yang cemerlang sering kali gagal karena kita tidak memiliki keberanian untuk mewujudkannya. Kita takut untuk memulai, dan juga takut untuk mengambil resiko, sehingga rasa takut tersebut pada kahirnya melumpuhkan perjuangan kita.

Keempat, adalah Semangat Berkorban. Semangat berkorban para pahlawan pejuang kemerdekaan tidak dapat kita pungkiri. Mereka bahkan dengan rela mengorbankan harta benda, keluarga, bahkan sekalipun nyawa mereka sendiri.
Bagaimana dengan kita para pengelola madrasah ? Tentunya, jika ingin berhasil dengan meneladani semangat berkorban para pahlawan kita pun harus mampu melakukannya. Dalam setiap langkah dan kegiatan yang mengarah demi kemajuan madrasah, sudah seyogianyalah kita berani berkorban dengan penuh semangat. Demi kemajuan madrasah kita harus siap mengorbankan waktu luang kita, korbankan pikiran dan tenaga serta kemampuan yang kita miliki.

Kalau kita cermati, bahwa dengan bekal cita-cita yang jelas, keberanian, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berkorban dalam merencanakan, melaksanakan dan mengelola madrasah sebagaimana yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa kita, niscaya keberadaan madrasah kita pun akan mengalami kemajuan dan keberhasilan sebagaimana yang diharapkan. Semoga …!

Referensi : Pandai Matematika

Minggu, 12 Juni 2016

MAKNA KERJA BARENG BAGI KKMI KECAMATAN CITEUREUP

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, jadi pastinya merela selalu butuh bantuan orang lain, begitu juga dengan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita menemukan masalah-masalah yang tidak dapat kita selesaikan sendiri, jadi kita akan membutuhkan temen-temen di sekitar untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut.
Bekerja sama atau dengan istilah lain “kerja bareng” dalam menyelesaikan sesuatu itu ternyata mendatangkan banyak keuntungan buat kita. Menurut lansiran laman job-interview-site.com kerja sama punya banyak keuntungan, di antaranya adalah pekerjaan dapat lebih cepat selesai kalau dikerjakan bareng-bareng, kemudian dengan bantuan pikiran dari banyak orang tentu segala pekerjaan dan masalah bisa lebih cepat dapat terselesaikan.
Selain itu kekurangan yang kita miliki dapat ditutupi dengan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, dan begitu juga sebaliknya kelebihan kita dapat menutupi kekurangan orang lain,

Menyadari akan hal tersebut di atas, Pengurus KKMI Kecamatan Citeureup dengan dukungan penuh dari Pengawas Madrasah selaku Pembina di wilayahnya membiasakan diri melakukan kegiatan kerja bareng diantara Kepala dan Operator Madrasah dalam menyelesaikan beberapa kegiatan administrasi dan pelaporan yang tentunya disesuaikan dengan kondisi madrasah masing-masing. Hal ini ternyata benar-benar sangat membantu dan mampu mempercepat proses penyelesaian pekerjaan yang dihadapi.
Juga disadari bahwa dalam kehidupan manusia yang pada dasarnya sebagai makhluk sosial, dapat diartikan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama dalam menjalankan kehidupan tersebut. Hal ini juga yang menjadi dasar kami membiasakan diri melaksanakan kegiatan secara bersama-sama.  

Sedikit mengutip dari postingannya blog handoko bahwa secara sosiologis, bekerjasama (cooperation) merupakan salah satu bentuk proses interaksi sosial yang paling utama. Yang dimaksud dengan bekerjasama adalah kerjasama antar orang perorangan dan antar kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama dalam organisasi.
Selanjutnya dipaparkan pula beberapa manfaat kerjasama sangat besar bagi kehidupan makhluk hidup khusunya manusia, manfaat kerjasama sebagai berikut:
Kusnadi (2003) mengatakan bahwa berdasarkan penelitian kerja sama mempunyai beberapa manfaat, yaitu sebagai berikut:
  • Kerja sama mendorong persaingan di dalam pencapaian tujuan dan peningkatan produktivitas.
  • Kerja sama mendorong berbagai upaya individu agar dapat bekerja lebih produktif, efektif, dan efisien.
  • Kerja sama mendorong terciptanya sinergi sehingga biaya operasionalisasi akan menjadi semakin rendah yang menyebabkan kemampuan bersaing meningkat.
  • Kerja sama mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antarpihak terkait serta meningkatkan rasa kesetiakawanan.
  • Kerja sama menciptakan praktek yang sehat serta meningkatkan semangat kelompok.
  • Kerja sama mendorong ikut serta memiliki situasi dan keadaan yang terjadi dilingkungannya, sehingga secara otomatis akan ikut menjaga dan melestarikan situasi dan kondisi yang telah baik.
Uraian diatas menjelaskan bahwa kerja sama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan dan kedua pihak memberi kontribusi atau peran yang sesuai dengan kekuatan dan potensi masing-masing pihak, sehingga keuntungan atau kerugian yang dicapai atau diderita kedua pihak bersifat proporsional, artinya sesuai dengan peran dan kekuatan masing-masing. Hal ini menggambarkan bahwa dalam kerja sama, ada rasa senasib sepenanggungan antara pihak yang bermitra. 

Banyak sudah beberapa kegiatan pendataan yang telah dilakukan secara “kerja bareng” oleh KKMI Citeureup, mulai dari pendataan siswa pada EMIS, Usul dan LPJ Bos, Administrasi Madrasah, Penyusunan Dokumen Kurikulum, bahkan termasuk kegiatan pendataan pada SIMPATIKA yang terakhir dilaksanakan pada bulan puasa, Sabtu 11 Juni 2016 mulai dari selesai taraweh hingga menjelang sahur. Tentu saja kami sangat berharap kegiatan “kerja bareng” ini terus dapat dipertahankan dan tetap berjalan demi kemajuan Madrasah Ibtidaiyah yang kita kelola